Oleh: Muhammad Ilham
Lebih dari Sekadar Rasional:
Memahami Jiwa dan Kesehatan Mental
Setiap kali kita membahas
kesehatan mental, ujung-ujungnya selalu kembali ke satu hal: apa yang
sebenarnya sedang terjadi di dalam diri manusia? Apakah yang sebenarnay
bemasalah? apakah itu pikiran, perasaan, atau sesuatu yang lebih dalam?
Banyak pendekatan modern
menjelaskan manusia dari apa yang tampak: perilaku, emosi, dan cara berpikir.
Pendekatan ini tentu membantu, tapi sering terasa belum lengkap. Ada sisi dalam
diri manusia yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata teknis sisi
yang sering disebut sebagai jiwa.
Islam sejak awal memandang manusia
bukan sekadar tubuh dan pikiran. Ada kehidupan batin yang dalam, kompleks, dan
terus bergerak. Karena itu, memahami jiwa menjadi langkah awal sebelum
berbicara jauh tentang kesehatan mental.
Jiwa
dalam Islam: Tidak Disederhanakan
Dalam Islam, “jiwa” tidak diwakili
oleh satu istilah saja. Al-Qur’an menggunakan beberapa kata untuk menggambarkan
kehidupan batin manusia, seperti nafs, qalb
(hati), akal, dan ruh. Ini bukan sekadar
variasi bahasa, tapi menunjukkan bahwa manusia tidak sesederhana itu.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa
manusia memiliki lapisan batin. Dalam salah satu ayat dalam surat Qaf disebutkan Allah Berfirman:
“Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati
(qalb) atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan.”
Ayat ini menarik karena tidak
menyebut “pikiran”, tetapi hati sebagai pusat kesadaran. Ini
menunjukkan bahwa Islam memandang batin manusia secara lebih luas daripada
sekadar proses berpikir.
Sekilas
Unsur Jiwa Menurut Islam
Berdasarkan pemahaman islam kita
bisa membagi kesadaran manusia atau jiwa mwnjadi beberapa bagian, diantaranya;
Pertama, nafs.
Nafs adalah sisi diri manusia yang memiliki dorongan dan keinginan. Di sinilah
muncul rasa marah, takut, ambisi, cemas, dan juga keinginan untuk nyaman.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa nafs bisa condong pada kebaikan, tapi juga bisa
mendorong pada keburukan Allah berfirman dalam surt Yusuf ayat yang ke 53 ;
“Sesungguhnya
nafs itu benar-benar selalu menyuruh kepada keburukan…”
Ayat tersebut menyiratkan
bahwasanya pergolakan atau kecondongan itu perkara umum yang pasti di lalui
tiap-tiap manusia sebab adanya dorongan atau keinginan yang dimiliki tiap tiap
manusia.
Kedua, qalb (hati).
Hati dalam Islam adalah pusat rasa dan kepekaan batin. Nabi Muhammad ﷺ
bersabda:
“Ketahuilah,
di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh.
Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”(HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa
kondisi batin sangat memengaruhi keseluruhan hidup seseorang.
Ketiga, akal.
Akal adalah alat untuk memahami dan menimbang. Namun Islam tidak memisahkan
akal dari nilai dan hati. Akal yang tajam tapi tidak dibimbing bisa terseret
oleh nafs atau emosi. Hal ini selaras dengan perkataan seorang psikiater dan
pendiri psikologi analitik Carl Gustav Jung Ia menilai banyak krisis batin
muncul karena kekosongan makna dan keterputusan spiritual,
bukan sekadar konflik pikiran (Jung, 1933).
Hal ini menunjukkkan bahwasannya manusia itu
bukan hanya tubuh dan akal saja tapi ada unsur lain yang lebih dalam dari hal
itu
Keempat, ruh.
Tentang ruh, Al-Qur’an secara jujur menyebut keterbatasan manusia Allah
Berfiraman daalam al-Quran surah al-isra ayat yang ke 58
“Dan mereka bertanya kepadamu
tentang ruh. Katakanlah: ruh itu urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi
pengetahuan tentang itu kecuali sedikit.” ayat Ini menjadi pengingat bahwa
tidak semua sisi jiwa bisa dijelaskan secara tuntas.
Jiwa
Itu Dinamis, Bukan Selalu Tenang
Salah satu kesalahan umum adalah
mengira bahwa jiwa yang sehat berarti tidak pernah gelisah.
Padahal, Islam justru mengakui dinamika batin manusia.
Bahkan para nabi pun mengalami
kesedihan dan tekanan batin. Al-Qur’an menggambarkan kesedihan Nabi Ya’qub
sampai penglihatannya terganggu karena duka mendalam. Ini menunjukkan bahwa emosi
berat bukan tanda lemahnya iman.
Dari sisi ilmiah, penelitian
modern juga menunjukkan hal yang serupa. Studi tentang emosi manusia menemukan
bahwa rasa sedih, cemas, dan takut adalah respon alami tubuh dan otak
ketika menghadapi tekanan atau kehilangan. Emosi-emosi ini bukan musuh, tapi
sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Masalah muncul bukan karena emosi
itu ada, tetapi ketika emosi dipendam, disangkal, atau dianggap sebagai aib.
Sebaliknya ketika seseorang bisa menyalurkn emosinya pada hal-hal yang benar maka ia akan mampu untuk mencapai
ketenangan jiwa. William james seorang filsuf dan tokoh psikologi modern dalam
kajiannya tentang pengalaman religius menyimpulkan bahwa pengalaman
batin dan spiritual memiliki dampak nyata pada ketenangan dan
perubahan hidup seseorang, meskipun tidak selalu bisa dijelaskan secara
rasional (James, 1902).
Bukti
Ilmiah: Manusia Tidak Hanya Rasional
Ilmu modern pun semakin mengakui
bahwa manusia bukan makhluk rasional semata. Banyak riset menunjukkan bahwa
kondisi batin dipengaruhi oleh banyak hal: pengalaman hidup, hubungan sosial,
makna hidup, dan keyakinan.
Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa orang yang memiliki rasa, makna, dan tujuan hidup
cenderung lebih mampu bertahan menghadapi tekanan berat. Ini sejalan dengan
pandangan Islam yang menempatkan makna hidup dan hubungan dengan Tuhan sebagai
penopang jiwa.
Penelitian lain juga menemukan
bahwa praktik spiritual—seperti doa, refleksi, dan rasa syukur—dapat membantu
menurunkan ketegangan batin dan meningkatkan ketenangan. Bukan karena “ajaib”,
tapi karena aktivitas ini membantu manusia merasa terhubung, tidak sendirian,
dan lebih menerima keadaan.
Dengan kata lain, apa yang
diajarkan Islam tentang jiwa tidak bertentangan dengan temuan ilmiah, justru
banyak bertemu di titik yang sama. Sebagai bukti Kanneth Pargament seorang
profesor psikologi di Bowling Green State University Menympulkan dlam
penelitiannya bahwa spiritualitas bukan sekadar teknik menenangkan diri, tetapi
pencarian makna terdalam, terutama saat manusia berada dalam
tekanan.(Pargament, 1997).
Dalam kesempatan yang lain Kanneth menyatakan agama berperan
besar ketika manusia berada pada titik paling rapuh—bukan saat semuanya
baik-baik saja.(Pargament, 2011).
Kesehatan
Mental dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, sehat mental bukan
berarti hidup tanpa masalah batin. Sehat mental berarti mampu merawat
jiwa saat masalah datang. Allah Berfirmn dalam Surah Ar-Ra’d ayat yang
ke 28 “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa
hidup akan bebas masalah, tetapi bahwa ketenangan batin bisa diupayakan,
meski masalah tetap ada.
Islam mengajarkan keseimbangan:
mengakui rasa sakit, berusaha memperbaiki diri, dan tetap berharap kepada
Tuhan.
Memahami
Jiwa adalah Bentuk Kasih Sayang
Memahami jiwa berarti berhenti
melihat diri sendiri sebagai “kurang iman” setiap kali merasa lelah. Juga
berhenti menghakimi orang lain hanya karena mereka sedang bergumul secara
batin.
Islam mengajarkan bahwa manusia
adalah makhluk yang rapuh sekaligus mulia. Jiwa tidak dituntut selalu kuat,
tapi dirawat dengan kesadaran.
Ketika jiwa dipahami secara
utuh—secara agama dan juga didukung pemahaman ilmiah—kesehatan mental tidak
lagi menjadi beban, tapi bagian dari perjalanan manusia menuju kedewasaan dan
ketenangan batin.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim. (n.d.). Al-Qur’an
dan terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Al-Bukhārī, M. ibn Ismā‘īl. (n.d.).
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq al-Najāh..
Muslim ibn al-Ḥajjāj. (n.d.). Ṣaḥīḥ
Muslim. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī..
William James. (1902). The
varieties of religious experience: A study in human nature. New York,
NY: Longmans, Green, and Co.
Carl Gustav Jung. (1933). Modern
man in search of a soul. New York, NY: Harcourt, Brace & World.
Kenneth Pargament. (1997). The
psychology of religion and coping: Theory, research, practice. New
York, NY: Guilford Press.
Kenneth Pargament. (2011). Spiritually integrated psychotherapy: Understanding and addressing the sacred. New York, NY: Guilford Press.
.jpg)
Post a Comment
Post a Comment